Chelsea Soegiharto
  Bahasa Indonesia 

Pendidikan yang ditunjukkan dalam film laskar pelangi sangat menunjukkan bahwa pada tahun 1974, pendidikan merupakan sesuatu yang sangat susah dan langka, dalam film Laskar Pelangi juga diperlihatkan fasilitas sekolah yang sangat tidak memadai dan susah untuk siswa-siswinya mengikuti sekolah karena faktor ekonomi, dalam film ini juga murid-muridnya menggunakan pakaian yang tidak layak pakai, jangankan menggunakan sepatu dan keperluan sekolah, untuk hidup saja mereka sudah susah dan ada yang harus berhenti sekolah karena harus bertanggung jawab dengan urusan keluarga, tetapi meskipun serba kekurangan, siswa-siswi di film laskar pelangi ditunjukkan bahwa mereka semua sangat niat belajar dan mereka merupakan murid-murid yang berprestasi, hal ini ditunjukan pada saat mereka mengikuti olimpiade matematika dan mereka dapat memenangkan olimpiade tersebut, padahal sekolah di Laskar Pelangi bukan merupakan sekolah yang bagus, sedengkan lawan lomba mereka dari sekolah yang bagus. Sebelum mengikuti lomba tersebut, sebenarnya sekolahnya tidak pernah mengikuti/memenangkan lomba-lomba, nilai-nilai para siswa-siswinya juga tidak bagus, tetapi mereka mulai niat belajar dan pada akhirnya kerja keras mereka membuahkan hasil. Dalam film ini untuk bersekolah murid-muridnya membutuhkan pengorbanan waktu dan menambah tanggung jawab mereka di rumah maupun harus bertanggung jawab besar dalam keluarga mereka dan sangat susah untuk pergi sekolah meskipun untuk pergi ke sekolah tidak mempertaruhkan nyawa mereka, sekolah ini juga merupakan sekolah yang berbayar sehingga guru-guru difilm Laskar Pelangi ini masih dibayar meskipun tidak banyak. Dalam fil ini juga diceritakan kisah siswa-siswinya saat sudah dewasa, mereka ada yang meneruskan pendidikan ke luar negri dan diceritakan bahwa Bintang yang sudah punya anak meskipun bukan menjadi orang kaya, tetapi ia  mendukung anaknya untuk niat/giat belajar dan terus mengejar mimpi dan cita-cita anaknya. 

Film Jembatan Pinsil tidak terlalu menunjukkan siswa-siswi yang berprestasi seperti di film Laskar Pelangi, tetapi menunjukkan bagaimana perjuangan anak-anak untuk sekolah, harus menyebrangi sungai dengan jembatan yang kurang kuat dan hampir roboh, pada akhirnya jembatan itu roboh dan sangat membahayakan nyawa siswa-siswinya, tetapi untungnya mereka selamat karena mereka saling menolong satu sama lain. Fasilitas sekolah di film ini juga sangat kurang karena sekolah ini merupakan sekolah gratis tetapi di sekolah ini mereka masih menggunakan seragam, sepatu dan tas meskipun saat hilang/rusak mereka susah untuk membeli yang baru dan siswa-siswi di sekolah di film ini merupakan anak-anak dari keluarga yang tidak mampu, mereka juga menceritakan kisah salah satu siswa bernama Odeng yang ayahnya meninggal saat melaut dan bagaimana susahnya saat tas Odeng jatuh ke dalam sungai, dan menceritakan bagaimana tragisnya cerita hidup Odeng yang berakhir meninggal di laut karena merindukan ayahnya. Dalam film Jembatan PInsil ini, siswa-siswinya sangat didukung untuk pergi ke sekolah meskipun membahayakan nyawanya, guru dalam film ini juga tidak dibayar dan tidak mendapatkan gaji/upah, mereka secara sukarela mengajar di sekolah ini. Hal ini ditunjukkan saat guru yang bernama ibu Aidah dan ayahnya yang mengajar di sekolah ini dengan harus melewati jembatan yang hampir rusak dan saat ibu dari Aidah marah-marah dengan suami dan anaknya agar berhenti mengajar di sekolah gratis tersebut karena selain tidak menghasilkan uang, ke sekolah tersebut juga membutuhkan pengorbanan karena ayah Aiday kakinya terluka karena jembatannya rusak, tetapi meskipun begitu Aidah dan ayahnya masih tetap mengajar di sekolah gratis tersebut karena mereka khawatir bila mereka tidak mengajar disana, siapa yang akan mengajar anak-anak tersebut. 

Pendidikan yang kami alami di jaman ini dan dalam kota sangatlah berbeda dari film Laskar Pelangi dan Jembatan Pinsil karena kondisi kami dari keluarga yang berkecukupan dan ada di kota Surabaya yang pada dasarnya bila dibandingkan dengan kota/provinsi yang ada di film Laskar Pelangi dan Jembatan Pinsil memang memiliki kualitas pendidikan yang lebih baik   dan fasilitas sekolah yang juga lebih baik daripada kondisi di film Laskar Pelangi dan Jembatan Pinsil, kami juga tidak perlu menyebrangi jembatan seperti dalam film Jembatan Pinsil untuk pergi ke sekolah dan untuk menimba ilmu disekolah kita tidak perlu mempertaruhkan nyawa kami, orang tua kami juga sangat mendukung anak-anaknya untuk bersekolah dan tidak ada alasan untuk kita berhenti sekolah seperti Bintang yang diceritakan dalam film Laskar Pelangi dan dalam kondisi yang sangat mendukung, kita juga tidak perlu bersusah payah untuk sekolah, meskipun memang untuk menimba ilmu bukanlah sesuatu yang gampang tetapi beban kita tidak seberat mereka yang ditunjukkan dalam kedua film tersebut yang bahkan harus mempertaruhkan nyawanya, hal ini merupakan hal yang harus disyukuri karena kami merupakan beruntung tidak berada diposisi mereka dan hal ini tidak boleh disia-siakan karena meskipun mendapatkan fasilitas belajar yang bagus, banyak sekali murid-murid yang menyia-nyiakan kesempatan dan bahkan malah banyak yang tidak niat sekolah dan sering membolos padahal yang diluar sana banyak murid-murid lain yang tidak dapat mendapatkan kesempatan dan beruntung seperti kami. Sekolah kami juga merupakan sekolah berbayar dengan banyak guru-guru yang mau mengajar, tidak seperti di film Jembatan Pinsil yang merupakan sekolah gratis dan Hanya ada dua orang guru yang mau mengajar.

Pada jaman sekarang pendidikan di Indonesia mulai membaik, bila dibandingkan dengan film Laskar Pelangi dan Jembatan Pinsil, tempat mereka menimbah ilmu sangat tidak layak dan fasilitas yang sangat terbatas, tetapi sejak adanya Bapak Presiden Joko Widodo yang menjadi presiden RI dan ia menyediakan fasilitas-fasilitas pendidikan di Indonesia bahkan di daerah-daerah dan juga adanya zonasi yang membuat standar pendidikan di Indonesia sama (meskipun banyak orang yang tidak menerima sistem ini dengan baik karena banyak standar sekolah yang tinggi menjadi lebih menurun karena disamakan dan banyak murid yang berprestasi ingin masuk ke sekolah favorit tetapi terkena sistem zonasi). Bapak Jokowi juga dapat menambah fasilitas pendidikan dengan kartu pintar yang dapat dibelikan untuk membeli keperluan-keperluan sekolah agar para siswa-siswi tidak perlu merasa susah atau tidak dapat membeli peralatan kelengkapan untuk sekolah, seperti di film Laskar Pelangi yang kekurangan peralatan sekolah dan seperti Odeng yang sangat panik karena penghapusnya terjatuh ditengah jalan dan tasnya terjatuh disungai, bahkan membutuhkan perjuangan bagi mereka untuk mencari pensil dan saat tas odeng terjatuh, ayah Odeng ingin membelikannya tas baru dan mendapatkan uang dari melaut, tetapi malah terjadi kecelkaan yang menyebabkannya meninggal. Bila dibandingkan dengan jaman di Laskar Pelangi dan Jembatan Pinsil, tentu saja pendidikan di Indonesia sekarang semakin membaik dan tidak separah pada jaman di Laskar Pelangi dan Jembatan Pinsil, tetapi meskipun pemerintah sudah mengfasilitasi pendidikan-pendidikan di daerah-daerah, masih banyak sekali daerah-daerah pedalaman di Indonesia yang masih kekurangan fasilitas dari pemerintah, secara Indonesia merupakan negara yang sangat luas dan masih tidak menutup kemungkinan bahwa banyak daerah-daerah yang fasilitasnya belum memadai dan hampir mirip, serupa ataupun sama bahkan lebih parah dari pada kedua film tersebut, tetapi bila dibandingkan dengan kedua film tersebut, pendidikan Indonesia mulai membaik karena bantuan pemerintahan Indonesia dan kota-kota yang krisis pendidikan seperti kedua film tersebut mulai semakin berkurang. 

 

Di gambar diatas ini mengilustrasikan tentang anak sekolah berseragam sd yang sedang membawa gerobak yang tertuliskan lks, matematika, dll. Anak itu berjalan seperti mendaki gunung dengan didepannya tertulis SMP, SMA, masa depan, dalam gambar ini memiliki arti bagaimana susahnya dan beratnya, harus dibebani dengan tugas, ulangan, uang spp, dll dengan jangka waktu yang lama dari sd, smp, sma untuk mencapai pendidikan untuk masa depan yang lebih indah. Gambar ini memang terlihat menyakitkan sekali, tetapi di dalam dunia nyata, kenyataannya memang seperti itu, untuk mencapai pendidikan yang tinggi untuk masa depan, kita harus bersekolah dalam jangka waktu yang lama (SD-SMA 12 tahun) dan biaya sekolah/pendidikan tidak murah, belum lagi kebanyakan orang menambah kursus diluar yang harus mengorbankan uang dan waktu, sebagai murid juga harus berjuang karena harus bertanggung jawab dengan tugas-tugas, ujian, mengorbankan waktu untuk bersenang-senang. Sekolah memang bukanlah merupakan faktor seseorang untuk sukses dan pendidikan tidak hanya dapat didapatkan dari sekolah, tetapi dengan adanya pendidikan akan lebih memudahkan/mendukung kesuksesan. Saat seseorang melamar kerja, kebanyakan akan lebih dipilih yang pendidikannya lebih tinggi (dalam kondisi kemampan bekerja mereka sama).


Komentar